Tiga Candi

Sunday, January 15, 2012

Sejak pertamakali saya memulai hobby jalan-jalan a la backpacking saat kuliah dulu, candi kuno sudah menjadi tujuan utama setiapkali berkunjung ke Yogya dan sekitarnya. Dulu saya bahkan sempat berencana membuat buku atau CD dokumentasi visual candi-candi di Jawa.
Libur natal tahun lalu, tiga candi berhasil saya sambangi. Mulanya saya ingin pergi ke Prambanan, tapi saya batalkan saat melihat membludaknya pengunjung di hari itu. Maka, sayapun berjalan kaki menyusuri jalan di pinggir komplek Prambanan, melewati sawah-sawah, menuju Candi Plaosan.
Candi kembar ini menarik untuk difoto dari area luar kompleks, dengan sawah dan ladang penduduk sebagai foreground. Kebetulan hari itu ada petani sedang memanen kacang tanah.



Photobucket
Photobucket
Photobucket
Sore hari, atas ajakan Fitri, teman saya, saya naik menuju sebuah dataran tinggi dengan menumpang ojek dari Pasar Prambanan. Di sana ada candi di mana kita bisa melepas pandangan ke bawah, melihat Bandara Adisucipto dari kejauhan di atas bukit. Candi itu bernama Candi Ijo.
Layaknya sebuah Candi Hindu, di sini ada ukiran lingga dan yoni dan juga patung sapi yang merupakan kendaraan Syiwa.
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Langit Yogya yang cerah sore itu memungkinkan kami melihat Gunung Merapi dengan jelas. Acara hunting pun ditutup dengan memotret Candi Prambanan dari atas bukit dengan Gunung Merapi sebagai backgroundnya.
Photobucket
Malamnya saya bergegas pulang ke penginapan, karena pukul setengah tiga pagi, saya sudah harus bangun, menuju Thuk Setumbu, sebuah nama bukit dimana kita bisa memotret Borobudur dari atas. Tempat ini sudah menjadi incaran saya sejak lama. Rasanya seperti “dream comes true” saat teman saya menyanggupi untuk menyediakan transportasi buat saya pergi ke sana.
Pagi, sekitar pukul dua, saya terbangun oleh suara alarm dan bergegas menyiapkan kamera. Dengan membonceng sepeda motor yang dikemudikan teman dari penginapan, saya menuju arah Magelang.
Untuk menuju Thuk Setumbu, patokannya hanya satu, yaitu cari jalan (akses) menuju Hotel Plataran. Setelah itu kita hanya mengikuti jalan setapak yang menuju perbukitan. Saat adzan subuh selesai berkumandang, kami tiba di sebuah tanjakan bertanah becek. Tentu saja ini menyulitkan motor untuk bergerak. Belum lagi suasana sekitar berupa hutan belukar yang sepertinya tidak mungkin untuk dilalui motor.
Kami pun memutuskan untuk berhenti di titik tersebut. Rupanya ada seorang bapak yang menyadari kedatangan kami. Dia adalah tour guide setempat yang biasa menemani tamu mendaki menuju Thuk Setumbu. Maaf, saya tidak ingat namanya. Dengan berbekal sebuah lampu senter, kami berjalan kaki, mendaki bukit membelah hutan becek bekas hujan hari sebelumnya. Motor diparkir di depan pos pendakian.
Singkat cerita, kami tiba di Thuk Setumbu pukul 04:45 pagi. Keadaan masih gelap. Sayapun mulai curiga, kenapa yang terlihat sekilas hanyalah hutan dan pepohonan. Mana candinya? Si bapak tour guide pun menjelaskan, candi itu yang ada lampunya. Saya hanya melihat dua lampu kecil di kejauhan.
Ternyata benar, Candi Borobudur terlihat sangat kecil dari sana. Saya bisa melihatnya saat matahari perlahan muncul dari perbukitan di timur sana. Apa daya? Lensa terjauh yang saya punya hanya 50mm.
Yang terpikir di kepala hanya bagaimana gambar ini bisa terlihat jelas meskipun dikrop. Saat itu saya putuskan untuk menggunakan bukaan kecil.
Photobucket
Photobucket
Tepat pukul 06:15, kami meninggalkan Thuk Setumbu untuk selanjutnya menhunjungi Candi Borobudur. Untuk menuju Thuk Setumbu, saya dikenakan biaya 15.000 rupiah per orang (terlepas dari tujuannya mau motret atau sekedar mampir). Dan 20.000 rupiah untuk membayar tour guide.
Terakhir saya berkunjung ke Borobudur kira-kira sembilan tahun yang lalu, saat masih menggunakan kamera analog. Rupanya candi ini menarik untuk difoto dengan lensa ultra wide.
Karena terlalu ramai dengan pengunjung, saya memutuskan untuk cepat-cepat kembali ke Yogya, untuk mempersiapkan diri pulang ke Jakarta.
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket

You Might Also Like

4 comments

  1. wow..... beberapa tahun saya tinggal di jogja, baru kali ini tahu ada yang namanya candi ijo..... btw, semua foto-fotomu benar2 outstanding

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih. Kalo nggak salah candi ini memang masih dalam tahap pemugaran karena belum terlalu lama ditemukan.

      Delete
  2. mas wibie..fotone apik, walau tertutup kabut pagi, siluet borobudurnya tetap terlihat salut deh :D
    sudah pernah ke candi ratu boko?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Hilda :)
      Ratu Boko udah pernah... kira2 lima tahun yang lalu pas menjelang sunset.

      Delete