Published Article: Suatu Pagi di Kampung Naga

Saturday, December 22, 2018

CLARA Magazine  |  October 2013







“Hikayat kampung ini tidak ada kaitannya dengan ular naga,” tutur Pak Atang, seorang penduduk asli Kampung Naga yang menyambut kedatangan saya di pelataran parkir. Dengan mengenakan pakaian tradisional Sunda berwarna hitam, lengkap dengan tutup kepala, Pak Atang melanjutkan penjelasannya. “Kata Naga sebetulnya merupakan singkatan dari ‘Dina Gawir,’ Bahasa Sunda yang berarti ‘Di Lembah.” Sebuah pencerahan yang mengawali perjalanan saya di suatu pagi yang juga cerah.

Terletak di dasar lembah Sungai Ciwulan, Kampung Naga secara administratif termasuk dalam wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Kampung ini hanya dapat dicapai melalui jalan antar kota yang menghubungkan Kabupaten Garut dengan Kabupaten Tasikmalaya. Secara turun temurun, kampung ini tetap teguh mempertahankan tradisi dan cara hidup masyarakatnya. Aturan adat yang melarang warganya merusak hutan dan mengotori Sungai Ciwulan telah berhasil melestarikan alam di sekitarnya. Dengan dipandu Pak Atang, saya berjalan menuruni ratusan anak tangga menuju dasar lembah. Dari atas, kampung ini terlihat sebagai kumpulan bangunan beratap ijuk yang dikepung hijaunya perbukitan. Jumlah bangunannya selalu tetap dari waktu ke waktu. Tidak bertambah dan tidak berkurang. Lalu, bagaimana jika jumlahnya tidak cukup untuk semua penduduk?

“Mereka yang tidak mendapat rumah harus tinggal di luar Kampung Naga,” kata seorang wanita yang pagi itu sedang membuat kerajinan dari anyaman bambu di teras rumahnya. Tingginya permintaan pasar akan barang kerajinan tradisional telah mendorong sebagian penduduk Kampung Naga menjadi pengrajin. Tidak sedikit dari mereka yang pergi ke Jakarta untuk pelatihan dan pameran barang kerajinan yang semuanya dibuat dari bahan alami seperti daun kelapa dan kulit kayu. Begitu juga dengan rumah-rumah mereka. Seluruh material yang digunakan bersifat alami dan berasal dari lingkungan di sekitarnya. Mulai dari atap yang terbuat dari ijuk dan daun kelapa, dinding dan pintu dari anyaman bambu, tiang dan balok dari kayu, hingga pondasi umpak dari batu kali.

Rupanya itu semua adalah bagian dari building codes yang dimiliki oleh kampung tradisional ini. Saya tidak menemukan satupun rumah atau bangunan yang melanggar aturan ini. “Kami tidak menggunakan genteng karena genteng terbuat dari tanah. Dan kami tidak mau tinggal di bawah tanah,” kata Pak Atang. Ternyata ada penjelasan dibalik setiap peraturan. Begitu juga peraturan untuk tidak membolehkan listrik masuk ke dalam Kampung Naga. “Semua material di sini mudah terbakar, terlalu beresiko jika terkena aliran listrik,” begitu menurut Pak Atang.

Untuk penjelasan yang terakhir, sepertinya tidak masuk akal bagi saya. Saat diizinkan masuk ke dalam rumah penduduk, saya menemukan satu ruang besar yang berfungsi sebagai ruang berkumpul keluarga, satu kamar tidur dan sebuah dapur lengkap dengan tungku api untuk memasak. Bukankah api berpotensi menimbulkan kebakaran? Ya, ternyata memang tidak semua peraturan bisa dijelaskan dengan logika.

Setelah puas berbincang-bincang, saya menuju rumah kepala desa. Pagi itu saya diterima oleh Pak Hendi, seorang pria yang relatif terbilang muda untuk menjabat kepala desa. Di dalam rumahnya yang semua serba terbuat dari kayu, beliau mejelaskan sedikit tentang tata krama bertamu di Kampung Naga. Pada dasarnya, penduduk setempat terbuka kepada siapa saja yang datang. Dalam satu minggu, ada dua hari tabu, yaitu Rabu dan Sabtu, dimana penduduk dilarang untuk membicarakan soal adat istiadat dan sejarah kampung mereka kepada orang luar. Beliau menyarankan, jika ingin berkeliling di dalam Kampung Naga sebaiknya ditemani oleh paling tidak satu pemandu lokal agar tidak menimbulkan hal-hal yang mencurigakan.

Ketika saya bertanya apakah tamu boleh menginap di dalam Kampung Naga, Pak Hendi tidak serta merta menjawab. Beliau hanya menyarankan jika ingin menginap, tamu harus melapor jauh hari sebelumnya dan selama menginap, tamu harus mentaati sepenuhnya peraturan yang berlaku di Kampung Naga. Entah mengapa, saya merasa ucapan beliau adalah isyarat halus untuk mengatakan tamu sebaiknya tidak menginap di Kampung Naga.

Dari rumah kepala desa, Pak Atang mengajak saya ke sebuah tanah lapang dimana terdapat masjid dan balai pertemuan warga atau Patemon dalam bahasa setempat, di salahsatu sisinya. Di waktu tertentu, tempat-tempat ini digunakan untuk tempat acara ritual Kampung Naga seperti upacara setelah panen dan acara lain yang bersifat keagamaan.

Tidak jauh dari sana, terdapat satu bangunan keramat yang tidak memiliki pintu dan jendela, terletak di atas tanah yang posisinya lebih tinggi dari permukiman. Tidak diketahui pasti apa fungsi dari bangunan tersebut karena setiap penduduk yang saya tanya lebih memilih untuk diam daripada menjawab. Delapan tahun lalu, saat saya pertamakali datang ke Kampung Naga, seorang pria tua menegur dan melarang saya saat hendak mengambil gambar bangunan tersebut dari dekat. Tidak hanya bangunan tertutup itu saja yang dikramatkan penduduk setempat, sungai dan hutan pun terlarang untuk disinggahi penduduk dari luar Kampung Naga. Konon, di dalam hutan itulah leluhur penduduk Kampung Naga dimakamkan.

Tidak dibutuhkan waktu lama untuk menjelajahi seluruh bagian Kampung Naga. Saat berjalan menuju pintu keluar permukiman, saya melewati satu kolam ikan berukuran besar dan kandang ternak berupa kambing dan domba. Rupanya penduduk kampung ini sangat mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan mereka sehari-hari.

Sebelum menaiki ratusan anak tangga untuk kembali ke tempat parkir, saya harus menyusuri jalan setapak di antara Sungai Ciwulan dan hamparan sawah milik penduduk. Sambil menoleh ke arah hutan kramat, saya bertanya kepada Pak Atang: “Siapakah leluhur penduduk Kampung Naga, dan bagaimana awal mula mereka mendirikan sebuah perkampungan di dasar lembah Sungai Ciwulan yang jauh dari perkampungan lainnya?”

Sama seperti reaksi penduduk Kampung Naga lainnya yang pernah saya tanyakan tentang hal ini, Pak Atang hanya menggeleng sambil tersenyum. Entah karena tabu untuk membicarakan hal ini atau memang beliau tidak tahu menahu soal sejarah leluhurnya. Sayapun akhirnya mengalah. Mungkin benar kata Papa Smurf, sosok figur dalam film animasi “The Smurf 2” yang saya saksikan beberapa waktu lalu: “It doesn’t matter where you come from. What matters is what you choose to be.”

You Might Also Like

0 comments