Published Article: Bertamasya ke Tanah Dewa

Saturday, December 22, 2018



CLARA Magazine | September 2013








Suatu pagi di ketinggian 2093 meter di atas permukaan laut, aroma wewangian dupa menyambut kedatangan saya dan dua orang teman di komplek candi kuno Arjuna . Sebutan “tempat bersemayam para dewa” yang muncul berabad-abad silam rupanya masih berlaku hingga hari ini. Dari tempat yang dianggap suci oleh penganut Hindu inilah perjalanan kami di dataran tinggi Dieng dimulai.

Komplek Candi Kuno Arjuna

Tidak sulit untuk mencapai kompleks candi kuno ini dari tempat kami menginap di Hotel Asri yang terletak di Jalan Telaga Warna. Agak sedikit berlebihan sebetulnya kalau kita menggunakan istilah hotel untuk sebuah penginapan yang secara fisik lebih menyerupai rumah tinggal. Tetapi begitulah kenyataan di sana. Hampir semua rumah penduduk yang dijadikan penginapan menggunakan istilah hotel atau homestay. Sepertinya istilah yang terakhir lebih terdengar realistis di telinga saya.

Untuk sampai ke komplek candi kuno Arjuna, kami berjalan kaki melintasi ladang sayur milik penduduk setempat. Tentunya ini bukan jalur resmi yang bisa dilalui kendaraan bermotor. Namun karena melewati jalur inilah kami bisa memasuki komplek candi kuno pada pukul tujuh pagi, satu jam sebelum jam operasional, dan bisa merasakan heningnya suasana tempat peribadatan kuno di atas gunung ini.

Sebagai dataran tinggi yang dipercaya sebagai tempat bersemayam para dewa, Dieng di masa lampau adalah negeri empat ratus candi. Sebagian besar dibangun pada abad ke-8 dan ke-9. Seiring berjalannya waktu, sebagaimana candi-candi kuno lainnya di tanah Jawa, keempat ratus candi itu diterlantarkan dan dilupakan oleh masyarakat setempat, hingga akhirnya ‘dihidupkan’ kembali oleh seorang arkeolog berkebangsaan Belanda bernama Van Kinsbergen pada tahun 1856.

Bagi penggemar wisata sejarah dan budaya seperti saya, tidak lengkap rasanya jika datang mengunjungi candi kuno tanpa masuk ke ruang dalam bangunannya. Duduk diam sambil bersila di dalam ruang gelap berukuran tidak lebih dari empat meter persegi, saya sedikit banyak bisa merasakan seperti apa rasanya orang zaman dulu bermeditasi di tempat ini. Tentunya saya tidak bisa berlama-lama duduk diam di sana karena tidak tahan dengan wewangian bunga sesajen yang dibungkus dengan daun pisang dan diletakan di lantai ruang dalam candi.

Tidak jauh dari kompek candi kuno Arjuna, kami melihat reruntuhan candi kuno yang diberi nama Candi Setyaki. Tidak ada yang terlalu istimewa dengan candi ini – bentuknya serupa dengan candi Hindu kuno pada umumnya – kecuali detail pahatan batu yang terdapat di keempat sisinya. Tidak mudah bagi saya untuk memahami makna dibalik setiap pahatan. Saya hanya menyadari kalau semua pahatan itu menunjukan figur-figur hewan yang berpasangan.

Setelah puas menjelajahi komplek candi kuno, kami kembali ke penginapan. Kali ini kami melewati jalur resmi pengunjung dan tentunya membayar tiket masuk di loket yang saat itu mulai dipadati pengunjung. Sebagai menu sarapan, kami membeli kentang goreng yang disajikan dalam bentuk potongan-potongan besar. Ya, dataran tinggi Dieng memang terkenal dengan produksi kentangnya yang berkualitas.

Di penginapan, kami bertiga berunding untuk memutuskan jenis kendaraan yang akan kami sewa untuk menjelajahi objek wisata lainnya di Dieng dan memutuskan kendaraan roda empat jenis SUV sebagai moda transportasi. Sambil menunggu mobil datang, kami berjalan kaki menuju Telaga Warna.

Telaga Warna

Untuk menikmati keindahan telaga warna, Pak Didik, pengurus Hotel Asri, menyarankan kami untuk mendaki bukit terdekat hingga mencapai puncaknya. Medan yang kami lalui berupa hutan dengan jalan setapak yang tidak diberi perkerasan. Di beberapa titik, kami harus melewati tanjakan yang cukup curam. Setelah mendaki selama sepuluh menit, tibalah kami di puncak bukit. Semua rasa lelah tiba-tiba hilang setelah menyaksikan keindahan Telaga Warna dan alam di sekitarnya. Rupanya tidak banyak orang yang tahu tentang puncak bukit ini. Selama kurang lebih dua puluh menit kami di sana, tidak satupun pengunjung yang kami jumpai.

Setelah menuruni bukit, mobil yang akan membawa kami menjelajahi dataran tinggi Dieng tiba di pelataran parkir. Dengan Pak Septanto sebagai pengemudi, kami menyusuri jalan-jalan berliku khas pegunungan menuju objek wisata selanjutnya, yaitu Sumur Jalatunda, sebuah sumur alami yang menyerupai sebuah kolam.

Sumur Jalatunda

Setibanya di sana kami menemukan dua orang penjual batu. Bukan batu permata atau batu berharga lainnya. Hanya batu biasa untuk dilempar ke dalam sumur. Konon, barang siapa mampu melempar batu hingga mencapai sisi terjauh sumur, keinginannya akan terkabul. Satu hal yang membuat saya tertawa adalah tidak ada satupun batu yang tercecer di sepanjang jalan menuju sumur. Rupanya para pedagang ini telah memungut seluruh batu yang ada.

Kawah Sileri

Objek wisata berikutnya adalah Kawah Sileri. Untuk pertamakalinya, saya bisa berdiri dengan jarak hanya beberapa meter dari sebuah kawah vulkanik yang masih aktiv. Di sekitar bibir kawah, perkebunan kentang di lereng bukit mendominasi pemandangan. Tingginya permintaan pasar akan kentang Dieng telah merubah banyak perbukitan hijau menjadi gundul. Didorong oleh rasa ingin tahu yang tinggi, sayapun memutuskan untuk naik ke atas bukit terdekat untuk melihat lebih dekat proses penanaman kentang. Rupanya seluruh proses masih dilakukan secara tradisional.

Kawah Sikidang

Setelah mengunjungi Telaga Merdada, sebuah danau dengan hamparan rumput hijau di sekitarnya,kami menuju Kawah Sikidang. Sepintas, tempat wisata ini mirip dengan Tangkuban Perahu di Jawa Barat. Yang membuatnya unik adalah kawahnya yang bisa berpindah-pindah.

Saat kami tiba di area parkir, Pak Septanto menjelaskan bahwa ketika ia masih muda, di tempat parkir inilah Kawah Sikidang berada. Setiap waktunya, di kawasan ini muncul lubang-lubang kecil yang mengeluarkan gelembung gas yang kian lama kian membesar hingga akhirnya membentuk kawah.

Sayang, faktor keamanan pengunjung sepertinya kurang dipikirkan dengan serius oleh pihak pengelola. Pembatas antara zona aman pengunjung dengan kawah hanya berupa pagar bambu dengan celah cukup besar untuk bisa dilewati kaki orang dewasa.

Candi Gatot Kaca

Objek wisata terakhir yang kami kunjungi di hari pertama adalah Candi Gatot Kaca yang lokasinya lebih tinggi dari komplek candi kuno Arjuna, sebelum akhirnya kembali ke penginapan di Hotel Asri.

Tidak lama setelah matahari terbenam, kami pun mulai menyadari betapa dinginnya suhu udara di dataran tinggi Dieng. Sweater tebal yang saya bawa dari Jakarta tidak mampu menahan dinginnya udara malam saat itu. Sambil melawan dingin, kami berjalan ke rumah makan terdekat dimana jamur menjadi menu utamanya. Ya, sekali waktu, jamur merupakan komoditi utama selain kentang di dataran tinggi ini. Seiring merosotnya permintaan pasar, perkebunan jamur pun menghilang dari Dieng.

Kembali ke penginapan, kami memutuskan untuk segera tidur. Pak Septanto berjanji untuk menjemput kami pukul empat pagi demi melihat matahari terbit dari Bukit Sikunir.

Bukit Sikunir

Berjalan mendaki bukit di kegelapan pagi merupakan tantangan sendiri bagi kami. Bersama puluhan pengunjung lainnya, kami berjalan menyusuri jalan setapak tanpa perkerasan. Di beberapa titik pendakian, kami melihat papan peringatan agar berhati-hati karena ada jurang di salahsatu sisi jalan.

Seperti pendakian di hari sebelumnya, seluruh rasa letih akhirnya terbayar dengan pemandangan yang menakjubkan di puncak bukit. Perlahan sang surya mulai muncul dari balik pegunungan, menghasilkan siluet dari Gunung Sindoro.

Berdiri di ketinggian 2500 meter di atas permukaan laut membuat kami mampu melihat pegunungan vulkanik di sekitar Bukit Sikunir. Saya pun menjadi sadar bahwa Jawa adalah pulau vulkanik di mana sebagian besar penduduknya hidup di atas tungku api yang berada di perut bumi.

Matahari semakin tinggi, kamipun berjalan menuruni bukit menuju area parkir dimana Pak Septanto sudah menunggu dan siap mengantar kami kembali ke penginapan. Setelah beristirahat untuk membayar kekurangan jam tidur malam sebelumnya, kamipun bersiap untuk meninggalkan hotel untuk menuju Wonosobo, kota terdekat dari dataran tinggi Dieng. Dari Wonosobo, kami akan melanjutkan perjalanan menuju Jakarta dengan menggunakan bis antar kota.

Dalam perjalanan pulang, saya merenung. Betapa kuatnya hubungan emosional antara gunung berapi dengan masyarakat Hindu Jawa di masa lampau. Dan sayapun kagum bagaimana mereka bisa membangun ratusan candi di ketinggian ribuan meter di atas permukaan laut.

Ingatan saya langsung tertuju pada ungkapan “Tempat Bersemayam Para Dewa” yang diberikan pada dataran tinggi Dieng di masa lampau. Dengan runtuhnya ratusan candi Hindu kuno dan hilangnya artefak-artefak purbakala, masihkah layak dataran tinggi Dieng menyandang gelar tersebut? Ingin rasanya bertanya pada hutan-hutan purba di perbukitan. Namun sayang, mereka telah berubah menjadi kebun kentang.

You Might Also Like

0 comments