Published Article: Ragam Rupa Kota Medan

Sunday, December 23, 2018

KOMPAS  |  February 23, 2017




Pada masa kolonial Belanda, Medan pernah berjaya berkat hasil perkebunannya yang merajai pasar Eropa. Masa kejayaan perkebunan dengan tenaga kerja dari berbagai suku bangsa itu kini telah memudar, meninggalkan warisan berharga berupa keragaman budaya dan agama.

1 (A/B)
Seorang perempuan/pria keturunan Tionghoa melakukan ritual sembahyang pada malam pergantian tahun kalender Imlek. Sejak pertengahan abad ke-19, ribuan etnis Tionghoa didatangkan ke perkebunan di wilayah Sumatera Timur. Sebagian besar berasal dari Pulau Pinang yang kini populer dengan sebutan Penang, Malaysia.

2 (A/B)
Berdiri sejak awal dekade 1960-an, Kelenteng Tong Yuk Kuang atau Wihara Gunung Timur merupakan Kelenteng Tao terbesar di Sumatera. Terletak di tepi Sungai Babura, kelenteng ini selalu ramai dikunjungi warga keturunan Tionghoa terutama saat perayaan hari besar seperti Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh.

3 (A/B)

Berwaktu tempuh sekitar 2,5 jam dari Medan, tepatnya di Desa Dolat Rayat, Berastagi, terdapat tempat peribadatan bagi umat Buddha yang dibuka untuk umum pada 2010. Dikenal dengan nama Taman Alam Lumbini, tempat peribadatan ini terdiri atas bangunan stupa berlapis emas dan dikelilingi taman seluas 3 hektare. Bentuknya yang menyerupai Pagoda Shwedagon di Myanmar menarik banyak wisatawan dari berbagai golongan suku dan agama untuk berkunjung.

4
Masjid Raya Medan atau Masjid Raya Al Mashun merupakan salah satu simbol keharmonisan antar-umat beragama di Kota Medan. Berdiri sejak 1909, masjid ini semula didesain oleh arsitek berkebangsaan Belanda bernama Theodoor van Erp yang kemudian digantikan oleh JA Tingdeman.

Pembangunannya sendiri menelan biaya sebesar 1 juta gulden yang sebagian besar ditanggung oleh Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alam selaku penguasa Kesultanan Deli saat itu dengan donasi dari Tjong A Fie, pengusaha dermawan terkenal di Medan.

5
“Di masjid ini, Anda bisa menemukan simbol Bintang Daud dan makam perempuan Belanda,” kata Ali Imran, salah seorang pengurus utama Masjid Raya Al Mashun, Medan. Simbol yang ia maksud terlukis di langit-langit masjid berupa gambar hiasan berbentuk geometris. Sementara itu, makam yang dimaksud adalah milik Catharina Johanna Cornelia Haberham Sunkar, istri dari Datuk Sjarifoel Azaz, kerabat dari salah seorang Sultan Deli.

Selama puluhan tahun, pengurus masjid yang akrab disapa Pak Ali itu menjadi pemandu bagi para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, yang berkunjung ke Masjid Raya. Hingga sekarang, Masjid Raya terbuka bagi siapa saja yang ingin mengetahui sejarah dan kemegahan bangunan berusia hampir 108 tahun ini.

6
Berdiri sejak 1891, Istana Maimun menjadi salah satu ikon di Medan. Bangunan yang memadukan gaya arsitektur Moor, Melayu, dan Eropa ini menjadi bukti era kejayaan Kesultanan Melayu Deli pada masa lampau, ketika Sultan memberikan konsesi berupa tanah kepada para pengusaha perkebunan di wilayah Sumatera Timur.

Hampir seluruh bangunan istana didominasi warna kuning, warna kebesaran kerajaan Melayu. Di tempat ini, wisatawan bisa merasakan duduk di singgasana sambil mengenakan pakaian kebesaran Kesultanan Melayu Deli.

7
Berkembangnya usaha perkebunan di Sumatera Timur melahirkan konglomerasi baru. Salah satunya, Tjong A Fie, pengusaha etnis Tionghoa yang terkenal karena kedermawanannya. Kontribusinya terhadap pembangunan Kota Medan begitu besar tanpa memandang perbedaan suku, agama, ras, dan golongan.

Dengan mengunjungi bekas tempat tinggalnya yang mewah di daerah Kesawan, wisatawan dapat menelusuri kedermawanan sang taipan, mulai dari pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, hingga sekolah dan rumah peribadatan.

8
Di bawah diorama pernikahan Shri Laksmi, seorang perempuan keturunan Tamil duduk sambil menunggu dibukanya pintu Kuil Shri Mariamman. Inilah kuil Hindu tertua di Kota Medan yang berdiri sejak 1881.

Setiap harinya, kuil ini buka pukul 06.00–12.00 WIB dan 16.00–20.00 WIB. Wisatawan dapat masuk ke dalam kuil ini dengan syarat melepas alas kaki dan menjaga ketenangan.

9
Sambil memejamkan kedua mata, seorang perempuan keturunan Tamil larut dalam doa di hadapan tujuh figur dewa.

Selama lebih dari satu abad, masyarakat etnis Tamil menetap di Kota Medan. Umumnya mereka tinggal di daerah Kampung Madras. Hingga kini, mereka masih menjalani ritual keagamaan Hindu yang diturunkan dari generasi ke generasi.

10

Salah satu ritual yang sering dilakukan masyarakat Hindu Tamil di Kuil Shri Mariamman adalah berjalan berputar searah jarum jam mengelilingi tujuh figur dewa, seperti yang sedang dilakukan keluarga ini.

Sang ayah membawa sebotol minyak yang konon merupakan simbol dari sisi negatif manusia. Nantinya, minyak tersebut akan dituang ke dalam wadah dengan lilin di atasnya. Api pada lilin melambangkan ilmu pengetahuan yang akan membakar habis sumbu (simbol ego) dan minyak (sisi negatif) tersebut.

11
Di bekas kediaman Tjong A Fie, terdapat empat ruangan penerima tamu. Masing-masing diperuntukkan bagi tamu penting dari golongan etnis Melayu, Tionghoa, Eropa, dan umum lainnya.

Khusus untuk etnis Melayu, ruang tamunya dihiasi dengan ornamen warna kuning, yang tidak lain adalah warna kebesaran Kesultanan Melayu.

12
Selain tenaga kerja dari luar Hindia Belanda, para pengusaha perkebunan di Sumatera Timur mendatangkan pekerja dari Jawa. Hingga kini, masyarakat keturunan Jawa menyebar di beberapa wilayah Kota Medan hingga ke Berastagi.

Di Berastagi terdapat beberapa keturunan Jawa yang membuka usaha rumah makan khas Jawa dan beberapa lainnya berjualan buah di Pasar Buah Berastagi.

You Might Also Like

0 comments