Published Article: Suatu Hari di Kawah Ijen

Sunday, December 23, 2018

KOMPAS  |  October 31, 2014









Berjalan menyusuri bibir kawah sebuah gunung vulkanik, melewati medan terjal berbatu sambil sesekali menutup hidung dan mata akibat gas belerang pekat yang menyesakan nafas dan perih di mata, adalah sebuah pengalaman yang belum pernah saya bayangkan sebelumnya.

Bagi saya dan para pelancong lainnya, ini adalah sebuah petualangan yang menantang. Bagi para penambang belerang tradisional di Kawah Ijen, Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, ini adalah pekerjaan sehari-hari. Setidaknya ada ratusan penambang tradisional yang menggantungkan hidupnya dari gas belerang di dasar kawah ini.

1
Melihat matahari terbit di puncak gunung adalah saat yang dinantikan para pengunjung Kawah Ijen. Untuk bisa menyaksikannya, pengunjung harus memulai pendakian di waktu dini hari. Di waktu yang sama, sebagian penambang belerang tradisional memulai aktivitasnya.

2
Sebagian besar penambang melakukan penambangan sebanyak dua kali dalam satu hari. Untuk satu kali pengangkutan, rata-rata beban yang bisa mereka pikul berkisar antara 70 hingga 100 kilogram. Semakin besar beban yang mereka pikul, semakin besar pula uang yang bisa mereka peroleh.

Setiap harinya, jarak yang ditempuh para penambang dari kawah menuju pos penimbangan terakhir adalah kurang lebih tiga kilometer.

3
Di dasar kawah, Pak Budhiono, seorang penambang berusia 50 tahun, menuangkan belerang cair ke dalam cetakan dengan berbagai bentuk seperti bunga, kura-kura, hati dan tokoh kartun anak-anak.

Benda kerajinan tangan dari belerang ini nantinya akan dijual sebagai cindera mata bagi para pengunjung. Harganya pun bervariasi. Semakin mendekati area parkir pengunjung, semakin mahal pula harga cindera matanya.

4
Dengan menggunakan peralatan seadanya, para penambang tradisional memecahkan batu belerang. Secara alami, belerang keluar dalam bentuk gas. Setelah mengalami proses distilasi, dengan cara menyalurkan gas lewat pipa yang terbuat dari susunan genteng, belerang berubah menjadi cair.

Setelah mengeras dan berubah menjadi padat, barulah belerang tersebut dapat diangkut dalam bentuk bongkahan.

5

Dengan membawa pikulan kosong di pundaknya, seorang penambang berjalan menuju dasar kawah dengan kedalaman kurang lebih 180 meter. Medan terjal yang berbatu dan minimnya undakan seringkali menyulitkan para penambang, terutama di waktu musim hujan, saat batu menjadi licin. Di dasar kawah inilah aktivitas penambangan belerang tradisional berlangsung.

6
Sebelum meninggalkan dasar kawah, para penambang harus mengukur kekuatan masing-masing dengan cara mengangkat pikulan berisi bongkahan belerang yang diletakan di atas tonggak besi, tidak jauh dari lokasi penambangan.

7
Tahap terakhir yang harus dilewati para penambang adalah proses penimbangan di pos terakhir, tidak jauh dari area parkir pengunjung. Untuk setiap satu kilogramnya, bongkahan belerang yang dipikul para penambang dihargai sebesar tujuh ratus delapan puluh rupiah.

Setelah melewati proses penimbangan, bongkahan belerang diangkut ke atas truk untuk kemudian dibawa ke pabrik untuk proses pengolahan awal.

8
Dua buah masker tergantung di dinding rumah singgah yang terletak di tengah-tengah jalur pendakian. Pekatnya gas belerang membuat nafas menjadi sesak dan seringkali menyakiti organ pernafasan.

Dari banyaknya pengunjung ke Kawah Ijen, sebagian mendonasikan masker sebagai pelindungan pernafasan bagi penambang. Tidak hanya itu, pengunjung yang memotret para penambang, seringkali kembali untuk memberikan hasil bidikannya. Di dinding luar rumah singgah yang bercat hijau, kita bisa melihat foto-foto tersebut, mirip sebuah “Wall of Fame.”

9

Tidak adanya lubang ventilasi berupa jendela membuat suasana di dalam rumah singgah sangat gelap.

You Might Also Like

0 comments